Selamat Datang di Kantor Pelayanan Jasa Publik

Penilaian Aset - Pendekatan Penilaian Aset Pendekatan Pendapatan PDF Print E-mail
Article Index
Penilaian Aset
Pengertian Personal Properti
Pengertian Penilaian Aset
Penggunaan dan Manfaat Penilaian Aset
Standar Nilai dalam Penilaian Aset
Tahapan Penilaian Aset
Pendekatan Penilaian Aset Pendekatan Data Pasar
Pendekatan Penilaian Aset Pendekatan Biaya
Pendekatan Penilaian Aset Pendekatan Pendapatan
All Pages
Pendekatan Penilaian Aset (Pendapatan)
Pendekatan Pendapatan (Income Approach) berdasarkan pada pola pikir hubungan antara pendapatan dari properti dan nilai dari properti itu sendiri.
Nilai dari properti tergantung pada kemampuan properti itu untuk menghasilkan keuntungan. Metode ini dikenal juga sebagai metode kapitalisasi karena pendapatan bersih yang dihasilkan oleh suatu properti dikapitalisasi menjadi nilai kini melalui perhitungan matematis yang disebut dengan kapitalisasi

Formula yang mendasari metode ini adalah

V = I/R Dimana, V= Nilai, I = Pendapatan, R= tingkat bunga


Dalam Pendekatan Pendapatan terdapat 4 metode:
1) Metode Diskonto Arus Kas(Discounted Cash Flow Method/Metode DCF);
2) Metode Kapitalisasi Langsung (Direct Capitalization Method);
3) Metode Penyisaan (Residual Technique Method); dan
4) Gross Income Multiplier (GIM).

  • Metode Diskonto Arus Kas
    DCF atau dikenal juga dengan metode Arus Kas yang didiskonto. Dimana arus kas dapat lebih memberikan gambaran pendapatan suatu properti baik sekarang maupun yang akan datang, dengan memperhatikan data-data masa lampau. Metode DCF sangat sesuai untuk property yang menghasilkan pendapatan dengan kondisi perekonomian yang tidak stabil. Proyeksi arus kas sangat penting dalam penilaian untuk property yang menghasilkan pendapatan, oleh karena itu diperlukan :
    - Prinsip antisipasi (principle of anticipation)
    - Penyesuaian seluruh data pasar
    - Analisa data pasar secara cermat
    - Data pasar harus akurat
    - Jangka waktu proyeksi yang dapat dianggap memenuhi prediksi arus kas (umumnya 5 – 10 tahun)

    Tahapan pekerjaan yang dilakukan pada metode ini adalah:
    a) melakukan analisis pendapatan dan pengeluaran dari obyek penilaian dan properti pembanding;
    b) mengestimasi pendapatan kotor potensial (potential gross income) dengan memperhatikan, paling kurang:
    1. keandalan asumsi yang digunakan;
    2. data historis yang digunakan; dan
    3. biaya sewa dan luas area bangunan.
    c) melakukan penjumlahan antara pendapatan lain-lain dan pendapatan kotor potensial setelah dikurangi tingkat kekosongan dan potensi kehilangan pendapatan (vacancy and collection loss) untuk memperoleh perkiraan pendapatan kotor efektif (effective gross income);
    d) menentukan biaya-biaya operasi (operating expenses), dengan memperhatikan, paling kurang:
    1. keandalan asumsi yang digunakan;
    2. data historis yang digunakan; dan
    3. biaya perawatan bangunan.
    e) mengurangkan pendapatan kotor efektif dengan biaya-biaya operasional untuk mendapatkan pendapatan bersih operasi sebelum bunga dan pajak;
    f) menentukan Tingkat Diskonto;
    g) menentukan prosedur pendiskontoan; 
    h) mendiskontokan pendapatan bersih operasi (net operating income) untuk mengestimasi indikasi Nilai obyek penilaian; dan
    i) dalam hal terdapat terminal value sebagai salah satu unsur pembentuk indikasi Nilai, maka Penilai Properti dapat menggunakan tingkat kapitalisasi terminal (terminal capitalization rate)dalam perhitungan terminal value dengan mempertimbangkan.Tingkat Kapitalisasi pada periode awal(Initial Capitalization Rate) yang merupakan tolok ukur untuk memastikan besaran tingkat kapitalisasi terminal (terminal capitalization rate).

  • Metode Kapitalisasi Langsung
    Pada metode ini Nilai obyek penilaian didapatkan dengan membagi proyeksi pendapatan tahunan yang mencerminkan dan mewakili pendapatan tahunan dimasa yang akan datang dengan Tingkat Kapitalisasi tertentu.

    Langkah-langkah yang wajib dilakukan dalam penggunaan metode kapitalisasi langsung (direct capitalization method), paling kurang:
    a) melakukan analisis pendapatan dan pengeluaran dari obyek penilaian dan properti pembanding; 
    b) mengestimasi pendapatan kotor potensial obyek penilaian;
    c) mengestimasi tingkat kekosongan dan potensi kehilangan pendapatan (vacancy and collection loss) dari obyek penilaian;
    d) melakukan pengurangan antara total pendapatan kotor potensial dengan tingkat kekosongan dan potensi kehilangan pendapatan (vacancy and collection loss) untuk memperoleh pendapatan kotor efektif (effective gross income);
    e) mengestimasi total biaya operasional yang terdiri dari biaya tetap, biaya variabel dan cadangan;
    f) melakukan pengurangan antara pendapatan kotor efektif (effective gross income) dengan total biaya operasional untuk memperoleh pendapatan bersih operasi;
    g) menetapkan tingkat kapitalisasi; dan
    h) mengkapitalisasikan pendapatan bersih operasi untuk mengestimasi indikasi Nilai obyek penilaian;

  • Metode Penyisaan
    Pada metode ini, nilai obyek penilaian didapatkan dengan mengkapitalisasi komponen pendapatan yang merupakan bagian dari komponen properti, antara lain tanah dan bangunan serta mesin dan peralatan. Melakukan pengurangan antara pendapatan bersih operasi properti secara keseluruhan dengan pendapatan tahunan (annual income) dari komponen-komponen properti lainnya yang bukan obyek penilaian untuk memperoleh komponen pendapatan obyek penilaian.

    Teknik yang digunakan dalam metode penyisaan (residual technique method), adalah sebagai berikut:
    a) Teknik Penyisaan Tanah (Land Residual Technique);
    b) Teknik Penyisaan Bangunan (Building Residual Technique); dan/atau
    c) Teknik Penyisaan Mesin dan Peralatan Bangunan (Building Equipment Residual Technique).

    Dalam penerapan Teknik Penyisaan Tanah (Land Residual Technique), maka berlaku ketentuan sebagai berikut:
    a) penentuan proyeksi pendapatan tahunan dari properti serta Tingkat Kapitalisasi;
    b) penentuan proyeksi pendapatan tahunan khusus yang dihasilkan oleh tanah dengan cara mengurangkan proyeksi pendapatan tahunan properti secara keseluruhan dengan proyeksi pendapatan tahunan  yang dihasilkan oleh properti selain tanah (bangunan, prasarana, mesin serta peralatan lain);
    c) properti selain tanah sebagaimana dimaksud dalam poin b) dapat berupa properti yang telah ada ataupun berupa proyeksi apabila dibangun/dikembangkan dalam hal memenuhi prinsip penggunaan terbaik dan tertinggi dari tanah;
    d) penentuan Tingkat Kapitalisasi khusus untuk tanah; dan
    e) mengkapitalisasikan proyeksi pendapatan tahunan dari tanah sebagaimana dimaksud dalam poin b) dengan Tingkat Kapitalisasi tanah untuk mendapatkan indikasi nilai tanah;

    Dalam penerapan Penilai Properti menggunakan Teknik Penyisaan Bangunan (Building Residual Technique), maka berlaku ketentuan sebagai berikut:
    a) penentuan proyeksi pendapatan tahunan dari properti serta Tingkat Kapitalisasi;
    b) penentuan proyeksi pendapatan tahunan khusus yang dihasilkan oleh bangunan dengan cara mengurangkan proyeksi pendapatan tahunan properti secara keseluruhan dengan proyeksi pendapatan tahunan  yang dihasilkan oleh properti selain bangunan  (tanah,  mesin serta peralatan lain);
    c) penentuan Tingkat Kapitalisasi khusus untuk bangunan; dan
    d) mengkapitalisasikan proyeksi pendapatan tahunan dari bangunan sebagaimana dimaksud dalam poin b) dengan Tingkat Kapitalisasi bangunan untuk mendapatkan indikasi nilai bangunan;     

    Dalam penerapan Teknik Penyisaan Mesin dan Peralatan Bangunan (Building Equipment Residual Technique), maka berlaku ketentuan sebagai berikut:
    a) penentuan proyeksi pendapatan tahunan dari properti serta Tingkat Kapitalisasi;
    b) penentuan proyeksi pendapatan tahunan khusus yang dihasilkan oleh mesin dan peralatan bangunan dengan cara mengurangkan proyeksi pendapatan tahunan properti secara keseluruhan dengan proyeksi pendapatan tahunan  yang dihasilkan oleh properti selain mesin dan peralatan bangunan (tanah,  bangunan dan prasarana);
    c) penentuan Tingkat Kapitalisasikhusus untuk mesin dan peralatan bangunan; dan
    d) mengkapitalisasikan proyeksi pendapatan tahunan dari mesin dan peralatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam poin b) dengan Tingkat Kapitalisasi mesin dan peralatan bangunan untuk mendapatkan indikasi nilai mesin dan peralatan bangunan.

  • Metode Gross Income Multiplier
    Pada metode ini, nilai obyek penilaian didapatkan dengan mengkonversikan Pendapatan kotor tahunan (potential gross income) yang mencerminkan dan mewakili pendapatan tahunan dimasa yang akan datang dengan konstanta tertentu.

    Langkah-langkah yang dilakukan dalam penggunaan gross income multiplier method, paling kurang:
    a) mengestimasi nilai jual dari properti yang sebanding dan sejenis dengan obyek penilaian;
    b) mengestimasi pendapatan kotor potensial dari properti yang sebanding dan sejenis dengan obyek penilaian;
    c) membagi nilai jual properti sebanding dengan pendapatan kotor potensial properti sebanding dan sejenis untuk memperoleh gross income multiplier;
    d) mengestimasi pendapatan kotor potensial obyek penilaian; dan
    e) mengalikan gross income multiplier dengan pendapatan kotor potensial obyek penilaian untuk memperoleh indikasi Nilai obyek penilaian.



Last Updated on Friday, 12 August 2011 16:03
 

Information Highlight

Studi Kelayakan

  Pengertian Studi kelayakan bisnis adalah kajian tentang berhasil tidaknya suatu bisnis dilaksanakan dengan menguntungkan secara terus menerus.       Pihak yang Berkepentingan - Pelaku bisnis dan investor ... Read more

Penilaian Aset Tak berwujud

    Pengertian Berdasarkan SPI 2007, aset tak berwujud adalah aset yang mewujudkan dirinya melalui properti-properti ekonomis dimana aset ini tidak mempunyai substansi fisik. Jenis-Jenis Aset Tak Berwujud Aset tak berw... Read more

Penilaian Saham

    Pengertian Bisnis Berdasarkan SPI 2007, badan usaha adalah entitas komersial, industri, jasa atau investasi yang menjalanka kegiatan ekonomi. Badan usaha biasanya bersifat mencari keuntungan ya... Read more

Penilaian Aset

      Pengertian Real Properti Menurut SPI 2007, pengertian real properti adalah hak perseorangan atau badan untuk memiliki, dalam arti menguasai tanah dengan suatu hak atas tanah, ... Read more

Copyright 2010 KJPP Tri, Santi & Rekan